Seri Civitas Akademika Magister Teknik Mengabdi 3: Mengenalkan Potensi Minyak Nyamplung bagi Masyarakat Wonosari, Bondowoso

Posted by

Salah satu dharma dari tridharma dosen adalah pengabdian masyarakat. Dosen diharapkan dapat menjadi suluh bagi masyarakat sekitar terutama yang berkaitan dengan aplikasi dharma kedua yakni penelitian. Kali ini satu kelompok dosen Magister Teknik Mesin Unej memberi penyuluhan ke mayarkat RT 32 RW 11 Wonosari, Bondowoso. Mereka adalah Dr Nasrul, Dr Koyim dan Dr Mahros diiringi para mahasiswa  yang tergabung dalam penelitian minyak biji nyamplung (callophyllum inophyllum) untuk berbagai aplikasi.

Pengabdian ini bermula ketika Dr Nasrul melintas di daerah Wonoasri  ini dan melihat banyak pohon nyamplung di sepanjang jalan Bondowosao ke Situbondo. Biji buah nyamplung banyak berjatuhan dan ketika mencoba menanyakan ke masyaraat sekitar, tidak ada yang memanfaatkan buah nyamplung ini. Singkat cerita, Dr Nasrul mencari tahu salah satu ketua RT di kawasan Wonosari ini dan menawarkan penyuluhan potensi minyak nyamplung ke masyarakat. Maka kesepakatan jadwal didapat dan dilaksanakanlah penyuluhan oleh sivitas akademika salah satu prodi di Unej ini. Hari Sabtu 31 Oktober 2020 di rumah Pak Santoso, ketua RT 32 RW 11. Tim pengabdi berangkat dari kampus Teknik di Patrang pukul 7:30 WIB dengan dua mobil, tiga dosen, 2 mahasiswa magister (Lukman Hakim, Mustapa), dan satu mahasiswa jenjang sarjana (Ahmad Iqbal Fawaid). Tidak lupa dibawa alat pengepres biji nyamplung dari Laboratorium Konversi Energi untuk peragaan.

Pada paparannya Dr Nasrul menceritakan potensi minyak nyamplung sebagai salah satu alternatif  bahan bakar yang yang dapat diperbaharui. Dr Nasrul dan Dr Koyim yang sudah lama berkecimpung di riset bahan bakar terbarukan memaparkan bahwa dari biji nyamplung dapat diperas dan diambil minyaknya dan digunakan langsung untuk memasak pengganti minyak tanah atau diproses lebih lanjut menjadi biodiesel sebagai campuran minyak solar. Sudah berbagai modifikasi dilakukan untuk mendapatkan minyak terbaik dan menghasilkan performa mesin diesel yang prima serta mengurangi emisi gas buang. Dr Nasrul juga menceritakan bahwa minyak nyamplung ini harganya melonjak cukup tinggi dari Rp 75.000per liter pada tahun 2017 menjadi Rp 250.000 pada tahun 2020 ini. Hanya sedikit yang menjual minyak ini dan penjualan dilayanai secara online. Maka beliau menekankan potensi biji nyamplung untuk diolah menjadi minyak yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Sementara, Dr Mahros menyampaikan potensi minyak nyamplung sebagai cutting fluids untuk permesinan seperti mesin bubut. Sebagai pengguna minyak ini untuk riset dengan salah satu bimbingan tesisnya, Wahyu Nuri, telah menguji viskositas, titik nyala dan karakteristik lain yang diperlukan sebagai syarat untuk menjadi cutting fluid. Hasil uji menunjukkan bahwa minyak nyamplung memenuhi standar untuk dijadikan menjadi minyak permesinan. Pada saat ini telah diujicobakan pada proses penggerindaan. Pada akhir paparannya, Dr Mahros menekankan pentingnya minyak nyamplung ini masa depan untuk berbagai aplikasi. Karena seluruh dunia sedang menggali potensi lokal dan terbarukan untuk menjadi alternatif minyak di masa depan. Temasuk beliau sendiri sedang dalam rangka pengusulan riset kerjasama India–ASEAN untuk pembuatan minyak jarak sebagai cutting fluids.

Setelah penyuluhan, dilanjutkan dengan peragaan pengepresan biji nyamplung sebagai tahap awal pembuatan minyak. Alat pengepres sederhana sistem hidrolis yang digunakan adalah buatan para mahasiswa yang tergabung dalam riset minyak nyamplung. Walau tidak banyak keluar minyak namun msyarakat bisa melihat bahwa dari biji nyamplung dapat keluar minyak. Penyebab sedikitnya minyak yang dihasilkan waktu peragaan, salah satunya karena biji-biji yang dipres masih basah yang diambil dari sekitar tempat penyuluhan. Juga, jumlah yang dipres hanya sedikit, kurang dari volume penuh tabung pengepresan.

 

 

 

Masyarakat antusias mendengarkan penyuluhan dan melihat minyak yang keluar dari pengepres. Mereka belum puas dan minta ke tim pengabdian untuk datang kembali, sementara mereka akan menyiapkan biji nyamplung yang sudah dikeringkan dalam jumlah banyak. Tim pengabdi memberikan tambahan saran supaya biji sudah dikeluarkan dari kulitnya dan akan lebih baik lagi jika dalam bentuk butiran kecil dengan mencacah atau menumbuknya lebih dahulu. Karena proses pengeluaran minyak tidak serta merta seperti memeras air dari kain yang dicuci. Perlu waktu!

Agenda penyuluhan berjalan lancar dan akrab. Selain masalah nymaplung, masyarakat tertarik untuk menggunakan potensi yang ada disekitar namun terbuang. Pak Agus, salah satu peserta yang beliau adalah pensiunan karyawan salah satu pabrik gula, menyarankan penyuluhan dan transfer teknologi pemanfaatan blotong. Blotong adalah salah satu limbah padat pabrik gula pada musim giling berbentuk seperti tanah liat. Blotong ini berpotensi dijadikan briket untuk bahan bakar. Sementara, pak Abdru Rahman yang berpengalaman berkelana ke berbagai daerah di nusantara, mengininginkan mesin pencacah sampah plastik. Plastik cacahan memiliki harga jual yang lebih tinggi daripada bentuk utuh atau pecahan besak ketika disetor ke pabrik atau pengepul. Atas masukan mereka berdua, tim berjanji akan mencoba menyalurkan ide ini ke kolega yang memiliki kapasitas dan kapabilitas di bidang tersebut untuk diusulkan dalam skim pengabdian tahun yang akan datang.

(Pewarta: M.Darsin)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *