Seri Kuliah Tamu 3: Advanced Manufacturing: A Journey of Industrial Revolution by Prof. Erween Abdur Rahim UTHM Malaysia

Posted by

Di penghujung tahun 2020 ini PS Magister Teknik Mesin Universitas Jember menyelenggarakan kuliah tamu tepatnya tanggal 11 Desember 2020. Kali ini mengundang Professor Erween Abdur Rahim dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM). Beliau adalah salah satu pakar di bidang manufacturing dengan publikasi terindeks di Scopus sebanyak 121, h-indeks 16, dan sitasi total sebanyak 1758 kali. Kepakaran beliau adalah dalam bidang machining. Kuliah diselenggarakan siang usai jumatan di Malaysia, atau tepatnya pukul 13:30 -16:00 WIB. Hadir pada kuliah tamu ini para mahasiswa S-2 dan juga S-1, serta para dosen dengan total peserta terbanyak 70 orang.

Pada pembukaan kuliahnya, Prof Erween memerkenalkan diri dan pengalaman studi dan pengalaman kerjanya sampai menjadi Professor di UTHM. Sebagai Ice breaker, beliau bercerita sedikit tentang silsilah nenek moyang beliau yang juga orang Jawa. Nenek buyutnya dari Purbalingga dan Kendal dan bermigrasi ke Malaysia sudah beberapa generasi. “Makanya, wajah saya ini mirip orang Jawa”, begitu kelakarnya.

Sesuai topik kuliah tamu, beliau menjelaskan sejarah revolusi industri yang seiring dengan revolusi manufacturing. Revolusi industri pertama dimulai dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt. Revolusi industri kedua dimulai dengan ditemukannya listrik (Edison), dilanjutkan penemuan telepon (Bell). Pada bidang manufaktur diciptakannya pesawat (Wright bersaudara), mobil (Benz), sepeda motor (Daimler),  serta sistem assembly line (Ford). Revolusi industri ketiga ditandai dengan otomasi dan telekomunikasi. Di bidang manufaktur ditandai dengan otomasi proses produksi dengan CNC, desain dan manufaktur terintegrasi (CAD-CAM) dan pengendalian sistem produksi dengan PLC. Selain itu muncul konsep dan implementasi Total Quality Management (TQM), penyimpanan sesaat (Just in Time, JIT), dan lean manufacturing. Revolusi industri keempat ditandai dengan transformasi digital dalam proses manufaktur dan  produksi serta kegiatan lain yang terkait dalam upaya menambah nilai barang.

Lanjut beliau, revolusi manufacturing keempat ditandai dengan sembilan hal: (1) Internet of things (IoT), (2) Augmented Reality (AR); (3) Simulation, (4) Additive Manufacturing (AM), (5) System Integration, (6) Cloud Computing, (7) Autonomous System, (8) Cybersecurity, dan (9) Big data analytic.

Pada akhir kuliahnya, Profesor yang telah berpengalaman di industri 5 tahun dan di dunia pendidikan 18 tahun ini menjelaskan bahwa revolusi industri 4.0 adalah game changer in manufacturing industri, khususnya dalam automasi industri meliputi: artificial intelligence, machine learning, internet of things, dan industrial internet of things. Topik manufacturing yang sedang trend saat ini dan di masa mendatang adalah smart manufacturing, additive manufacturing, collaborative robot. Siapkah kita menghadapinya?

Pada sesi tanya jawab, para mahasiswa sangat antusias mengajukan pertanyaan. Salah satu diantaranya menanyakan kalau semua sudah robot dan otomasi, terus apa peran kita manusia utamanya para engineer ini. Dijawab oleh beliau bahwa peran engineer justru sebagai perancang dan pengedali sistem otomasi. Ditambah lagi tidak semua bidang akan dapat diotomasi dan digantikan dengan robot. Otomasi penuh akan diterapkan di negara yang ongkos tenaga kerja sangat mahal. Sedangkan, di negara yang berpenduduk padat dan ongkos tenaga kerja masih relatif murah industri padat karya, industri semi otomatis akan masih lebih menguntungkan.

Usai kuliah tamu, Prof Erween dimintai pendapat tentang kurikulum bidang sarjana dan magister teknik mesin. Beliau yang banyak pengalaman di bidang akreditasi menyarankan, untuk kurikulum ke depan hendaknya mahasiswa diberi kesempatan magang di industry selama satu tahun atau dua semester. Kalau di Indonesia sedang memperkenalkna kurikulum merdeka, yang slah satunya program magang di industri selama enam bulan akan diakuri setara dengan 20 sks, menurut pengalaman beliau itu masih kurang. Karena dengan berpengalaman magang di industry, mahasiswa akan langsung belajar dan mengahadapi masalah riel dan melihat bagaimana penyelesaian sebuah masalah akan melibatkan banyak pihak dan banyak disiplin ilmu serta kebijakan. Bekal ini akan membuat lulusan tidak akan canggung ketika sudah terjun di dunia kerja.

 

(Pewarta: M.Darsin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *